Kamis, 10 September 2015

SELAMAT JALAN

Hujan malam itu. saat yang memayungimu
Jatuh dan rebah ketanah. Aku saat itu –
Melihatmu. Ikut basah. juga merasakan
Sebuah sesak di dada seperti yang kau
rasa itu

Aku mengerti. apa arti malam itu bagimu.
Dan mencoba untuk mengubahnya. Hingga
Sejak itu. perhatianku terus tumbuh dan
Mengakar padamu. Dalam gerak dan doaku

Andai saja. saat itu. kau tahu. hadiah yang kau
campakan itu. di hadapanku. ku berikan kepadamu.
Agar kau tahu. Bahwa kau tak sendiri. Ada aku
di sampingmu. Setidaknya sampai saat yang kau
harapkan mengganti. datang untuk mengisi

Memang tidak mudah mencintai. Selalu di hadapkan
Dengan kemungkinan-kemungkinan yang menyakitkan

Tapi. aku mengerti tentang lukamu. yang masih belum bisa
Di sembuhkan. Dan memaafkanmu. serta akan terus menemani
Sampai. Kau benar-benar mampu berjalan sendiri. mencari yang
Kau impikan

karena cinta yang sejati. memang akan selalu di uji. Dan akan
selalu mampu bertahan. Meski selalu di sakiti. Tapi
cinta itu akan menang. Walaupun. ketika yang kau cintai. pergi

Lalu kau sanggup melepasnya dengan senyuman. Meski basah
matamu saat itu. kau sanggup mengatakan kepadanya
Selamat jalan. semoga kau selalu hidup dalam kebahagiaan

Saat melihatnya. Perlahan-lahan hilang. menjauh dari matamu.
lalu tak terlihat lagi.  hatimu merasa tak menyesal mencintainya

hatimu mensyukuri pertemuan dengannya. meski pada akhirnya
berpisah. untuk selamanya ataupun untuk kembali lagi. di sini
ataupun disana. kini ataupun nanti

dan hatimu berkata.

terima kasih .
 
....

WAKTU

Kemarin. di balik jendela. Ia melihat
Daun-daun jatuh. dari ranting. Me –
niggalkan sebatang pohon kering.
yang tersengat matahari

parit-parit. yang ber isi air. Menguap.
terangkat kelangit. Menjadi awan
putih yang menggelantung di udara

di kamarnya. sebuah lagu minor. Selalu
terdengar sampai keluar. Menyayat hati
setiap pendengarnya

ia tak mengerti. saat lagu minor itu selalu
di putar. Dari dalam. Ia melihat kelangit.
Awan-awan putih menghitam. Lalu turun
Menjadi hujan. Jatuh membasahi tanah
Yang kering

Kepada pikiran ia bertanya. Apakah itu
Sesuatu yang biasa. Sebuah perubahan
Yang tak perlu di herankan?

Atau itu. hanya tentang waktu yang ber –
Sembunyi. Di balik langit. Yang selalu
tertawa melihat orang-orang yang ragu
pada kepastian?

Tanyakan kepada waktu. Apakah sesuatu yang
pasti datang. sesuai hukumnya adalah khayalan.
atau. hanya tentang menunggu

Tanyakan kepada ingatan. Sudah berapa Lamakah musim
gugur ini tiba? Bukankah kemarin musim semi di sini?

Ya. jawab ingatan. Kemarin di sini musim semi
Yang panjang. jauh lebih panjang dari pada
musim gugur sekarang

itulah rahasiaku. kini engkau  telah tahu
mulai kini. ubahlah nyanyian minor itu. terlalu
banyak yang memutarnya. Jangan ikut terperangkap
dalam ilusi hebatku.

waktu dan jalanku.
pahami dan nikmatilah

Robbi Sunarto

13 Juni 2015

 

....

Bagan dan Cahaya Kunang-Kunang

Tentang lautan dan daratan.  Seperti kilat
Yang menyambar. Tanda hujan. Antara
ketakutan dan harapan. Dan antara
hidup dan kematian

Mereka tak tahu pasti. Yang terlihat hanya lautan
Serta langit yang tak berisyarat. Merekapun juga tak tahu
Apakah di sana. Di tempat mentari terbenam itu
Ada melodi yang lirik dan nadanya
Seperti imlek. tahun baru. Penuh petasan
Barongsai serta ampao

Yang mereka tahu malam itu. Ketakutan dan harapan
Angin kencang. ombak yang menghempas keras
setelah itu. Tidak lagi terlihat kapal. Hanya papan
yang mengapung-apung. Berserakan di permukaan
Kecuali mereka. satu kapal. yang selamat. dari kejauhan
melihat kumpulan kunang-kunang. Terbang. lalu
berlayar menuju cahayanya

Ternyata itu bukan bayangan. Benar daratan
Hari itu di daratan. kapal tongkang yang
membawa mereka . Di bakar. sebagai syukur. Serta
janji tak lagi berlayar. menetap di sana
memperjuangkan hidup. Menghindari
Kematian. Yang telah pasti di tempat asal.
tak bisa melawan paksaan kekuasaan

bagan. Yang di temukan karena cahaya kunang-kunang
yang hanya hidup semalam. Tapi meski semalam
Kumpulan cahaya mereka. telah membantu
menemukan melodi baru. Dengan lirik
dan nada yang tak lagi sendu.

Tentang Bagan dan Cahaya Kunang-kunang
begitu haru dan biru. Itulah lirik dan nada
sesampainya mereka disana

Robbi Sunarto

11 juni 2015 

....

Hanya Hujan

kini. matahari pukul empat
lebih dekat. dua jam lagi terbenam
cahaya pukul dua belas tadi
sudah tak sempat lagi. memudar

yang di butuhkan rumah sunyi
tak berpenghuni. hanya bunyi. isi
sebuah melodi yang tak kosong
mungkin minor. tapi tak pasti
mungkin saja mayor

tentang mungkin. ia tak berani
memang tak mengerti. ia masih bertahan
dengan nyanyian pesimistis. kemarin
tentang wanita tua. yang tak lagi bisa bicara
yang sedang duduk di hadapannya
tentang hujan. yang membasahi tubuh mereka
menakutkan. katanya

bayangan yang sentimentil itu. berputar di kepala
mengikat hati. seperti penjara
harapan tak lagi mampu menggoda
di luar sana. hanya hujan. pasti hujan
katanya

dan kini. saat matahari sore tadi. benar benar hilang
tenggelam di balik gunung. di ujung lautan
hanya malam. lagu minor tadi pasti

seperti wanita tua dan hujan mereka
kinipun juga hujan. hanya hujan
ta..pi lebih lirih

di sela hujan yang sentimentil itu
di hadapan lidah yang kelu
dengan terbata-bata
ternyata. katanya

di hadapan waktu. matahari tak perkasa
di hadapan ketidakpastian. harapan
harus ada. berjuang mewujudkannya

saat cahaya sudah di telan bayangan
saat ilusi telah mengalahkan realita
padahal. mungkin saja terang
sedang mengikuti bayangan hujan di sana
bukan mungkin. pasti hujan

seperti saat ini. hanya hujan
tinggal hujan

Robbi Sunarto

11 juni 2015 


....

Anna

Matahari meredup. tertutup awan. saat itu
Suara kereta yang bising berhenti di stasiun
Seorang wanita masuk kedalam gerbong

Di kursi. Ia duduk. Di balik jendela melihat rerumputan
Ada kepucatan yang memancar dari wajahnya
Di dada. Telapak tangannya menekan
sebuah sakit di dalam. sangat menyesakan hatinya

di sela-sela suara kereta uap yang bercampur suara hatinya
ia masuk kedalam dunia imaji. Dua wajah lelaki. Membayang
sebuah sesal menusuk. melihat wajah yang telah di khianati
untuk yang mengkhianati. terasa benci meremukan hati

hati yang sentimentil itu. terasa putus asa. Tak terbendung
mata airnya mengalir
jari-jarinya menutup bibir
kereta berhenti dan ia keluar dari gerbongnya

matahari masih saja muram. belum memberi harapan
menutup secercah cahaya yang tak juga selesaikan jeda
ia duduk di kursi tunggu penumpang. Melihat kereta pergi

ia berbalik ke belakang
jam ditengah dinding stasiun bergerak ke arah kiri
membawanya pergi ke dua tahun yang silam

saat itu sebelum semua kepedihan berawal
ia melihat seorang wanita menjatuhkan diri kerel kereta
ada sebuah firasat menyeruak masuk ke hatinya
sesak menekan dada dan berpikir itu pertanda

saat kereta akan kembali datang
jam kembali bergerak ke arah kanan
ia berdiri. Bangkit dari kursi. berjalan kebibir rel

sesaat sebelum kereta berhenti

sesaat sebelum jeda matahari usai

ia melompat. menjatuhkan diri

mati dalam duka yang belum selesai


Robbi Sunarto

7 juni 2015


....

Senin, 18 Mei 2015

Sapardi Joko Darmono dan Leo Tolstoy : Menemukan Cinta Yang Sama

Oleh : Robbi Sunarto

Aku ingin mencintaimu Dengan sederhana.

 DEMIKIANLAH bermula Puisi Aku Ingin. penulisnya Sapardi Joko Darmono. Puisi ini sangat singkat, tapi mudah di ingat sehingga selalu melekat. Sepertinya Sapardi telah merasakan pengalaman yang sama seperti yang di alami Anna atas ketertarikan yang tak terhindarkan saat berdekatan dengan Vronsky. Ia begitu terpukau ketika mendengar kata dari bibirnya. Saat menatap wajahnya. serta mendengarkan harapan-harapan yang di janjikan serta yang ada pada bayangannya. Hingga ternyata akhirnya mendapatkan kekecewaan yang tragis. 

 puncaknya saatAnna berbicara pada dirinya sendiri.

“Apa yang ia cari sebenarnya dari diriku?” Bukan cinta, namun hanya sebuah kebanggaan karena berhasil mendapatkanku. Dia telah mendapatkan segala yang ia inginkan dariku, dan aku tidak ingin lagi di peralat olehnya.”

Begitulah Anna mengungkapkan kekecewaannya. Ia sudah tidak percaya lagi atas cinta yang di rasakannya kepada Vronsky. lalu bertekad membebaskan dirinya dari Vronsky yang telah membelenggunya dalam duka cita atas kenyataan cinta yang Ia terima. Ia terus memberikan harapan kepada Vronsky. Tapi Vronsky tetap tidak berubah. sampai akhirnya Anna merasa putus asa dan menjatuhkan dirinya ke rel kereta. Ia bunuh diri.  Sebuah akhir yang dramatis tentang cinta dalam Novel terkenal Leo Tolstoy yang berjudul Anna Karenina.  

Sapardi agaknya cukup beruntung. Meski kecewa, Ia tidak harus menjatuhkan diri ke rel kereta api untuk bunuh berdiri sebagai Anna melakukannya. Ia telah berhasil membebaskan dirinya atas ekspektasi tinggi tentang cinta dan hasrat sebuah Eros yang menggebu. Sapardi tidak menginginkan lagi cinta yang manis pada bibir sebagai bujuk rayu. Sapardi juga tidak menginginkan lagi cinta sebagaimana Eros dalam bahasa yunani. Sebuah cinta yang kosong pada tindakan laku. Sehingga Ia hanya menginginkan cinta yang sederhana.
Seperti kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api. 

sepertinya Ia memang sudah bosan sehingga cinta yang sederhana yang ia gambarkan sedemikian menggetarkan. tidak ingin lagi melihat cinta sebagai sebuah kemunafikan dan ingin lari dari belenggu cinta seperti itu. Ia kini hanya menginginkan cinta untuk cinta. Cinta yang menuntut dirinya sendiri meski cintanya mungkin tak berbalas. Membaca bait-bait ini sepertinya Sapardi juga telah mengalami apa yang di alami Levin dalam Novel Anna Karenina.  

Levin telah mengungkapkan cintanya. Ia di tolak. Kitty lebih memilih Vronsky. Levin tidak marah atas kenyataan itu. Sebaliknya ia memaklumi

“Aku tahu. Tentu saja, itu tidak bisa terjadi.”

Dan akhirnya ia berpamitan sesopan mungkin meninggalkan pesta rumah keluarga Shcherbatsky. Kesan terakhirnya sebelum pergi adalah kebahagiaan Kitty. Dengan wajah tersenyum saat ia berbincang dengan Vronsky. Meski Levin telah di tolak. Ia merasa tidak mungkin bisa membayangkan gadis lain menjadi penggantinya. 

Sapardi dan Levin telah mencapai tahap cinta yang sama. Dimana cinta hadir untuk berkorban demi yang di cintainya. Sebagaimana langit dan bumi berkorban untuk manusia. Sebagaimana Ibu berkorban untuk anaknya. sebagaimana Pemimpin berkorban untuk rakyatnya. Tahap seperti ini adalah tahap yang hanya segelintir orang yang bisa mencapainya. Yang banyak justru sebaliknya. Bukan saling berkorban, tapi saling mengorbankan. 

yang menjadikannya abu. 

Inilah puncak dari cinta sebuah peleburan atas pengorbanan. Dimana api membuat kayu menjadi abu. Ketika kayu menjadi abu, api menjadi lenyap. Kayu dan api menjadi hilang wujudnya. Peleburan itu menciptakan sebuah bentuk yang baru yaitu abu. 
 
Apa yang dialami Sapardi sama seperti yang di alami Levin. Ia masih tetap mencintai Kitty. Melihat pengorbanan Levin yang telah menahan kemarahan serta kebenciannya yang membuatnya tetap bertahan untuk mencintai Kitty. Kitty berubah pikiran dan memilih untuk menyatu dalam cinta yang sama-sama rela. peleburan itu telah menjadi kita baginya bukan lagi Levin atau Kitty. 

Sapardi joko Darmono dengan puisi Aku inginnya dan Leo Tolstoy dengan Novel Anna Kareninanya menjadikan cinta sebagai tema besar mereka. karena cinta mereka telah bertemu dalam pemahaman yang sama tentangnya.

Cinta memang akan selalu menjadi topik yang wajib untuk selalu di bicarakan bila di lihat dari mamfaatnya setidaknya itulah yang terpikirkan oleh Iwan Fals dalam lirik lagunya.
Kalau cinta sudah di buang. Jangan harap keadilan akan datanga. kesedihan hanya akan menjadi tontonan.

....


Selasa, 10 Februari 2015

Filosofi

zaman ini kita terlalu banyak menggunakan akal, lupa menyentuh hati, terlalu kagum dengan kehebatan akal, sebenarnya akal itu adalah alat untuk mensucikan hati, hati adalah raja, itulah substansi penciptaan akal, membantu hati mengenal kembali dirinya, inilah jihad seumur hidup

Robbi Sunarto
30 Januari
....

Filosofi

sekali-sekali cobalah rasakan tidak makan sehari semalam atau berhari-hari kelaparan, sekali-kali cobalah pergi ketempat yang kita tidak mengenal seorangpun, sekali kali cobalah rasakan bagaimana dinginnya malam tanpa rumah, inshaa Allah akan mendapatkan sesuatu yang berharga

Robbi Sunarto
4 Januari 2015

....
 

Saran

Robbi Sunarto
10 Januari 2015

dizaman skrg ini, yang dikatakan ronggo warsito sebagai zaman edan, cara-cara konvensional tidak efektif lagi, seringnya menjadi buih, tapi tetap itu dibutuhkan, yang efektif skrg adalah cara klasik yaitu dengan sastra baik itu puisi, cerita, lagu dan ruh sastra adalah penderitaan, merasakan bagaimana keadaan yang wujud sekarang ini pada dunia, negara atau lingkungan sendiri, hampir saja tak ada tempat dihati untuk menangisi diri sendiri, dunia yang hilang, cinta yang pergi dan segalanya itu harus dikubur dalam dalam, yang ada hanyalah duka rakyat banyak yang mesti dicarikan jalan keluarnya, yang mesti dihibur, yang mesti dibangkitkan harapannya, jangan biarkan orang lain/manusia putus harapan. dan sastrawan adalah salah satu penanggung beban itu, salah satu yang bisa melihat. ya sastra itu seperti air meski terlihat sepele, tapi bertenaga, ia tidak menyerang fisik, tapi langsung menembus relung hati. mampu menghancurkan tembok-tembok yang kokoh. ya sepertinya dizaman edan ini sastra perlu dihidupkan lagi untuk mengungkapkan keadaan zaman yang gila ini. tapi untuk menjadi sejati perlu tahapan dan banyak pengorbanan.
bila para pemimpin yang mempunyai massa menggunakan sastra sebagai salah satu alat perjuangannya tentu akan sangat besar pengaruhnya
...

Filosofi

saat yang indah dalam hidup itu adalah, saat jatuh, lalu tiba tiba ada yang datang mengulurkan tangannya dan berkata, berdirilah, engkau tidak sendiri, aku bersamamu, aku percaya kepadamu. walaupun musim berubah disekitarmu, aku akan tetap menjadi musim semi bagi hatimu

Robbi Sunarto
13 Januari 2015

.... 

Filosofi

antara tau dan tidak tau entah mana yang lebih baik? kurasakan sama sama tidak mudah dua hal ini. yang terbaik jalani saja, biarlah langit yang memutuskan tentang langkah selanjutnya

Robbi Sunarto
16 Januari 2015
....

Tugas Manusia

jangan lupa tugas yang termasuk maha penting, adalah membantu orang lain melampau dirinya yang belum mengenal. baik langsung ataupun tak langsung. tak harus membantu yang banyak2, tak harus mengajarkan yang banyak2, cukup bantu dia menemukan rel dirinya yang memang sudah ada pada dirinya, percayalah dengan begitu bukan semakin berkurang malah semakin bertambah. ya kita harus berbahagia bila bisa melihat orang lain maju dan berkembang, bahkan melebihi diri kita sendiri

Robbi Sunarto
23 Januari 2015

....

Presiden Jokowi

Robbi Sunarto
23 Januari 2015

saya memandang kritik terhadap presiden itu perlu, terlebih dari orang yang memilihnya, karena ada sebuah ungkapan yang mengatakan :
sahabat terbaik itu adalah sahabat yang tidak membiarkan sahabatnya melakukan kesalahan, bila tidak bisa dengan tangan, dengan lidahnya, bila tidak bisa dengan lidah, minimal dengan hati, dan itu adalah selemah lemahnya iman.
bilapun tak ada yang mengkritik, maka saksikanlah bagaimana waktu akan berbicara, dan para sahabat dipastikan akan ikut di minta pertanggung jawabannya. termasuk kita semua..
cinta itu suci, tak bisa bersatu dengan kesalahan. cinta tidak berbuat untuk tubuh jasad manusia, tapi dia berbuat untuk cinta itu sendiri.
disinilah cinta diuji, kesuciannya dipertaruhkan

....

Empati

Robbi Sunarto
23 Januari

saya pernah melakukan riset kecil kecilan tentang apa reaksi seseorang ketika melihat orang lain dalam keadan terpuruk atau lemah, sebagian besar adalah penghakiman. saya berpikir kenapa tidak memulainya dari empati. karena itu adalah masalah hati, bahkan rasulullahpun juga pernah merasa takut dan sedih, dan saya sangat memuji apa yang dilakukan khadijah saat nabi ketakutan saat pulang dari gua hiira. ya ini memang dianggap sepele, tapi karena hal sepele yang berupa empati itu, banyak hati yang berubah dan tergugah.

....

Filosofi

Robbi Sunarto
24 Januari

meski melihat itu adalah anugrah
tutuplah mata, jangan terus membukanya
tidurlah, lupakan sejenak alam nyata
masukilah alam mimpi, nikmatilah yang bisa
detik, menit, jam, akan membangunkan nanti
persis seperti yang diperlihatkan
tentang pagi nanti di alam cahaya


...

Presiden Jokowi

Robbi Sunarto
25 Januari 2015

dari awal saya sudah prediksi, bahwa pemerintahan ini tidak akan bermasalah, rusak, ataupun jatuh karena orang-orang yang tidak memilih presiden jokowi kemarin atau yang menjadi lawan politiknya, karena adanya orang orang yang merindukan sosok sosok presiden yang melawan kebiasaan mainstream, sederhana tidak bermewah mewahan, mau turun kebawah, ya harus diakui rakyat tidak peduli apa yang ada dihati yang terpenting mata mereka melihat pemimpin yang bersahaja, mau turun melihat rakyatnya, meskipun mungkin ada maksud lain, terlalu berat bagi mereka untuk memikirkan hal hal seperti itu. dan yang akan membuat rusak, atau membuat bermasalah pemerintahan jokowi adalah justru orang-orang terdekatnya, lingkaran partai pengusungnya, dan seluruh kepentingan lainnya yang ingin memamfaatkan peluang sebesar besarnya selama pemerintahannya.
tapi bila melihat sistem konstitusi kita yang berpartai, selama 5 tahun ini jokowi takkan bisa mandiri, akan banyak kepentingan yang turut serta menikmati keuntungan selama 5 tahun ini, baik dalam maupun luar negri, jangan heran banyak nanti hal hal yang luar biasa terjadi, tanpa sadar ataupun disadari.

....

Kata Kata Mutiara

Robbi Sunarto
25 Januari 2015

bila presiden menjadi rusak, maka negara menjadi rusak
bila negara menjadi rusak, maka rakyat menjadi rusak
dan rakyat itu kita semua

....

3 Cara untuk Perubahan

Oleh : Robbi Sunarto
25 Januari 2015

saya bukannya berputus asa terhadap negara ini, khususnya terkait korupsi dan semua kerusakan moral lainnya. dan saya berpikir ada beberapa hal yang memungkinkan perubahan bisa terjadi
1. lahirnya pemimpin yang gila yang berani melawan kebiasaan mainstream, hati dan perbuatannya sama, yang tidak cinta dengan dunia dalam artian siap meninggalkan kemewahan dirinya serta tidak takut mati bila memimpin, dan bisa mengendalikan seluruh kepentingan, dan memenangkan kepentingan rakyat. (positif) sedangkan yang negatif seperti sistem komunis china yang memberikan hukuman mati terhadap koruptor yang benar benar dilaksanakannya.
tapi kedua hal ini, bisa terlaksana bila mereka memiliki kendali partai.
tapi yang lebih baik adalah kegilaan yang diatas
2. revolusi (kehendak rakyat untuk mengubah nasib bangsanya sendiri, yang mereka sama sepakat bahwa negara mereka telah rusak parah, dan harus diubah), tapi hal ini hanya bisa terjadi bila ada momentum dan kesakitan yang nyata dihati yang dirasakan sebagian besar rakyat yang melawan akal sehat. dan pemuda adalah penggerak utamanya, khususnya mahasiswa
3. terjadi perang diluar maupun dalam negeri yang melibatkan seluruh rakyat, atau bencana maha dasyat, ini adalah kehendak luar.
saya sangat membuka kemungkinan cara lainnya, tapi untuk saat ini, hanya 3 cara inilah yang bisa terpikirkan.

....

Memberi Amanah

Oleh : Robbi Sunarto

25 Januari 2015

>>>><<<<

selama ini kita telah merasakan bagaimana kepemimpian dari brbagai paham atau ideologi
1.soekarno lebih mengarah kepada sosialis nasionalis
2. soerhato, lebih mainstream
3. habibi, sangat singkat
4. gusdur, lebih mengarah liberal
5. megawati lebih mengarah liberal
6. Sby mainstream
7. Jokowi belum bisa disimpulkan
8. ??????

hanya ada satu ideologi partai yang blum pernah diuji sampai saat ini yaitu :
ideologi islam, yang betul2 menjadikan islam sebagai ideologi.
memang benar negara ini bukan untuk ajang coba-coba, tapi faktanya selama ini kita juga mencoba coba, dan tetap saja tidak memuaskan, bila begitu kenapa kita tidak mencoba memberi kepercayaan kepada partai atau orang-orang yang menjadikan islam sebagai ideologinya, bila kenyataannya nanti tidak berhasil atau menghianati negeri ini, tidak usah pilih lagi setelahnya
ya memang banyak alasan orang takut bila pemimpinya berideologikan islam, dengan berbagai macam alasannya tapi kbanyaan itu smua hanya sangkaan saja, bagaimana kita tahu kalau belum merasakannya. ya salah satu partai yang berideologikan islam adalah PKS, ya memang ada yang tersangkut kasus kkn tapi coba bandingkan dengan partai lain sangat minim dan sedikit ujilah seluruh sisinya, pasti jauh lebih baik dibandingkan partai yang lain, jangankan partai. islam saja ada pengikutnya yang menjadi ahli maksiat, termasuk kita sendiri.
ada beberapa pemimpin yang berideologikan islam ditingkat gubernur
seperti Gubernur jawa barat ahmad heriyawan, Gubernur sumbar Irwan Prayitno yang dari PKS, Faktanya semua yang ditakutkan oleh sangkaan sebagian pihak ternyata tak terbukti, malah mereka bersih, berprestasi membangun dan dicintai rakyat daerahnya. dan bila melihat mereka sangat sejuk rasanya, karena memang mereka kuat juga menjalankan agama.
ya semoga saja dipemilu yang akan datang pemimpin yang berideologikan islam diberikan kesempatan dan kepercayaan dari rakyat Indonesia untuk mengabdi pada Tuhan, rakyat, bangsa dan negara untuk kebaikan dan kemakmuran Indonesia.
mengapa tidak kita beri kesempatan kepada pemimpin yang berideologikan islam?
itulah terkadang, kita umat islam, tapi sangat ragu terhadap islam?
mari kita bicara hati kehati akal ke akal

....

Saran

Robbi Sunarto

27 Januari 2014

saya menyarankan untuk para aktivis dalam menyikapi keadaan negara saat ini, jika harus bersikap, sebaiknya bukan aksi demonstrasi yang dilakukan terlebih dahulu, aksi aksi simbolik itu lebih baik dan untuk dijadikan permulaan untuk melihat reaksinya. seperti pernyataan sikap dengan ancaman, petisi, pemberian hadiah, atau simbol2 yang lain, yang bisa memberikan pesan langsung ataupun tersirat. dua jenis pesan itu perlu dilakukan sebelum melakukan yang lain. syaratnya media, dan heterogenitas aktivis (dari berbagai kampus/perkumpulan di Indonesia) itu perlu disatukan dan dikumpulkan. Sebaiknya dilaksanakan diseluruh Indonesia. Masing2 daerah ada penanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengerakkan aksi2 simbolik tersebut. Saya pikir bila melihat aksi2 aktivis diriau selama ini, riau sepertinya siap memulainya atau menjadi triger untuk mengajak daerah lain. Ya satu hal yang pasti, pemerintah tidak bisa dilepas begitu saja, tanpa kontrol masyarakat. kita ingin pemerintahan ini berjalan dengan baik dan benar

....